ASUMSI PASCA ERA
REFORMASI
Pergulatan politik di Indonesia semakin tidak memberikan tendensi
positif bagi masyarakat yang cenderung mengabaikan kesejahteraan rakyat. Rakyat
hanya diperalat sebagai penentu dalam mencapai tujuan polotik yang diperankan
atas kepentingan partai yang berkutat pada roda pemerintahan, sehingga tidak
sedikit masyrakat khususnya masyarakat menengah kebawah yang berasumsi
terhadap politik kotor, namun meskipun demikian pemerintah tetap saja
mengabaikan kesejahteraan rakyat.
Boleh dikatakan setiap calon atau kandidat yang mendaftarkan
dirinya sebagai salah satu pesaing dalam memperebutkan kursi kekuasaan,
mempunyai visi yang baik dan cukup fundamental bahkan gagasanya sangat familiar
ketika disampaikan pada waktu kampanye, mereka mendesain
retorika-retorika yang cukup dan mengelitik para pendengarnya sehingga tidak
menutup kemungkinan untuk tidak memilihnya .ini secara konseptual emang sudah
jelas banyak dipragakan oleh mereka yang siap maju kezona nyaman menerut hemat
mereka. Tapi disisi lain Mony Politic tetap saja membabi buta ketengah-tengah
masyarakat, sapa yang tidak goyah jika dihadapkan dengan yang namanya uang,
oleh karenanya retorika gak lagi dipertimbangan dan terjadi suap menyuap.
Meskipun dalam islam ditegaskan “ARRASYI WAL MURTASYI FINNAAR” namun
hanyalah sebatas formalitas dan jargon saja sebagai umat yang beragama.
Bagaimana bias mensejahterakan rakyat jika perintah tuhanya saja di abaykan,
otomatis dalam kinerjanya jugak disesakkan dengan wacana saja tanpa
realisasi.mereka memang pandai dalam pengalokasian target dan draf-draf
kepemerintahanya dalam filenya tapi itu semua hanya menjadi folder yang lapuk.
Tidak terlaksana dengan baik. Karna terlalu banyak angan angan, memang dalam
pepatah dikatakn lebih baik bertindak meskipun sedikit dari pada tergelam dalam
angan angan ingin berbuat banyak.
Kembali
pada persoalan kultur dan basisnya bagi pemimpin kita saat ini, bukti yang
sangat valid banyak kita ketahui dalam kejadian pemerintah saat ini korupsi
mengetori Negara dengan perlahan, karna pemimpin kita banyak yang mementingkan
kesejahteraan keluarga dengan bekal akal bulusnya ketimbang kesejahteraan
masyarakatnya. Penulis jadi ingat pada apa yang dikatakan nabi besar kita
Muhammad SAW,”Idza Wusyidhal Amru Ila Ghairi Ahlihi Fantadzir Sa’a”(jika
sesuatu ditimpakan pada bukan ahlinya maka tunggulah kerusakany).sedikit
bias penulis klarifikasikan dengan realita yang ada di negara ini tidak ada
pemerintah kita yang bebas dari permasalahan yang ujung-ujungnya adalah
merugikan Negara dan mencemarkan nama baik Indonesia yang notabenenya mayoritas
umat beragama.karna tidak sedikit dari pemerintah yang maju dan mencalonkan
diri hanya berbekal duit. Tidak punya kemampuan dan pengaruh dalam profesinya.
Dalam kepemimpinan bukan soal posisi tapi bagaimana mempengaruhi rakyatnya.
1.
Sudah
tidak asing lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, saat ini yang namanya
pemimpin pasti dialah yang terpimpin, bukan malah memimpin rakyatnya tapi
mengabaikan kesejahteraanya. Sejauh ini Indonesia tidak pernah memiliki
pemimpin yang proaktif yang siap berwacana disertai dengan tindakan bisa dikata
pemimpin koboy, namun hanya kaya dengan wacana-wacana dan konsep retorika yang
luar biasa dari orang elitnya yang pada ujungnya saling Sandra antara satu sama
lain. Oleh karnanyalah rakyat tertindas kesejahteraanya di abaikan, sehingga
asumsi-asumsi negatifpun bermunculan,
Joseph.C.Rost berpendapat
bahwa “kepemimpinan adalah hubungan yang saling mempengaruhi antara pemimpin
dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata dan mencerminkan
tujuan bersama”.(Dr. Kridawati Sadhana, M.S.-Etika birokrasi.hal 183.)
Jika kita analisis ternyata tidak ada realisasi dari petuah tokoh yang satu ini
hanya saja pengaruh rakyat itu ada pada saat pemilu, setelah itu maka sudah
tidak ada korelasi lagi antara masyarakat dengan pemerintah. Rakyat hanya
diperalat sebagai penentu dalam mencapai tujuan polotik yang diperankan atas kepentingan
partai yang berkutat pada roda pemerintahan, sehingga tidak sedikit masyrakat
khususnya masyarakat menengah kebawah
yang berasumsi terhadap politik kotor, namun meskipun demikian pemerintah tetap
saja mengabaikan kesejahteraan rakyat.
2.
Pemimpin
harus berani mengambil tindakan dan mengambil resiko, dari apa yang telah
menjadi kesepakatan antar anggota yang ada. Kedepankanlah kepentingan bawahan
dan kepentingan tujuan
organisasii dengan memberikan kritik atas pekerjaan yang jelek dan memotivasinya
sekaligus memberikan petunjuk pada bawahan bagaimana melakukan tugas yang baik.
Salah satu
peranan pemimpin dalam meningkatkan pelayanan public adalah member motivasi
kepada bawahan. Efesiensi dan produktian fitasnya yng tinggi dapat dicapai bila
pemimpin berperan secara efektif dalam mengkoordinasikan semua bawahan di lingkunganya.
Produktifitas adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
dalam jangka waktu yang relative singkat dan mencapai tingkat hasil yang
memuaskan..(Dr. Kridawati Sadhana, M.S.-Etika birokrasi.hal 190.).
maka untuk merealisasikan perilaku pemimpin dalam hubungannya cenderung
mementingkan bawahan
a.
Ramah
Tamah
b.
Mendukung
dan membela bawahan
c.
Mau
berkonsultasi
d.
Mau
mendengarkan pendapat bawahan
e.
Mau
menerima usulan bawahan
f.
Memikirkan
kesejahteraan bawahan
g.
Memperlakukan
bawahan setingkat dirinya.
h.
Selalu
memberikan petunjuk bawahan bagaimana melakukan tugas dengan baik
i.
Memberikan
setandar tertentu atas pekerjaan
Yang terakhir jadilah pemimpin yang proaktif dan anti NATO, dalam
kepemimpinan bukan soal kedudukan yang sesuai dengan jobscription masing, akan
tetapi bagaiman mempengaruhi bawahanya, dalam hal ini penulis teringat
bahasanya pak dahlan iskan yang mengatakan “jagalah hati dengan puisi jangan
menjaga hati dengan posisi”.
Malang 27 desember 2013
M. JALALI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar