Sabtu, 28 Desember 2013

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


ASUMSI PASCA ERA REFORMASI
Pergulatan politik di Indonesia semakin tidak memberikan tendensi positif bagi masyarakat yang cenderung mengabaikan kesejahteraan rakyat. Rakyat hanya diperalat sebagai penentu dalam mencapai tujuan polotik yang diperankan atas kepentingan partai yang berkutat pada roda pemerintahan, sehingga tidak sedikit masyrakat khususnya masyarakat menengah kebawah yang berasumsi terhadap politik kotor, namun meskipun demikian pemerintah tetap saja mengabaikan kesejahteraan rakyat.
Boleh dikatakan setiap calon atau kandidat yang mendaftarkan dirinya sebagai salah satu pesaing dalam memperebutkan kursi kekuasaan, mempunyai visi yang baik dan cukup fundamental bahkan gagasanya sangat familiar ketika disampaikan pada waktu kampanye, mereka mendesain retorika-retorika yang cukup dan mengelitik para pendengarnya sehingga tidak menutup kemungkinan untuk tidak memilihnya .ini secara konseptual emang sudah jelas banyak dipragakan oleh mereka yang siap maju kezona nyaman menerut hemat mereka. Tapi disisi lain Mony Politic tetap saja membabi buta ketengah-tengah masyarakat, sapa yang tidak goyah jika dihadapkan dengan yang namanya uang, oleh karenanya retorika gak lagi dipertimbangan dan terjadi suap menyuap. Meskipun dalam islam ditegaskan “ARRASYI WAL MURTASYI FINNAAR” namun hanyalah sebatas formalitas dan jargon saja sebagai umat yang beragama. Bagaimana bias mensejahterakan rakyat jika perintah tuhanya saja di abaykan, otomatis dalam kinerjanya jugak disesakkan dengan wacana saja tanpa realisasi.mereka memang pandai dalam pengalokasian target dan draf-draf kepemerintahanya dalam filenya tapi itu semua hanya menjadi folder yang lapuk. Tidak terlaksana dengan baik. Karna terlalu banyak angan angan, memang dalam pepatah dikatakn lebih baik bertindak meskipun sedikit dari pada tergelam dalam angan angan ingin berbuat banyak.
            Kembali pada persoalan kultur dan basisnya bagi pemimpin kita saat ini, bukti yang sangat valid banyak kita ketahui dalam kejadian pemerintah saat ini korupsi mengetori Negara dengan perlahan, karna pemimpin kita banyak yang mementingkan kesejahteraan keluarga dengan bekal akal bulusnya ketimbang kesejahteraan masyarakatnya. Penulis jadi ingat pada apa yang dikatakan nabi besar kita Muhammad SAW,”Idza Wusyidhal Amru Ila Ghairi Ahlihi Fantadzir Sa’a”(jika sesuatu ditimpakan pada bukan ahlinya maka tunggulah kerusakany).sedikit bias penulis klarifikasikan dengan realita yang ada di negara ini tidak ada pemerintah kita yang bebas dari permasalahan yang ujung-ujungnya adalah merugikan Negara dan mencemarkan nama baik Indonesia yang notabenenya mayoritas umat beragama.karna tidak sedikit dari pemerintah yang maju dan mencalonkan diri hanya berbekal duit. Tidak punya kemampuan dan pengaruh dalam profesinya. Dalam kepemimpinan bukan soal posisi tapi bagaimana mempengaruhi rakyatnya.


1.      Sudah tidak asing lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, saat ini yang namanya pemimpin pasti dialah yang terpimpin, bukan malah memimpin rakyatnya tapi mengabaikan kesejahteraanya. Sejauh ini Indonesia tidak pernah memiliki pemimpin yang proaktif yang siap berwacana disertai dengan tindakan bisa dikata pemimpin koboy, namun hanya kaya dengan wacana-wacana dan konsep retorika yang luar biasa dari orang elitnya yang pada ujungnya saling Sandra antara satu sama lain. Oleh karnanyalah rakyat tertindas kesejahteraanya di abaikan, sehingga asumsi-asumsi negatifpun bermunculan,
Joseph.C.Rost berpendapat bahwa “kepemimpinan adalah hubungan yang saling mempengaruhi antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata dan mencerminkan tujuan bersama”.(Dr. Kridawati Sadhana, M.S.-Etika birokrasi.hal 183.) Jika kita analisis ternyata tidak ada realisasi dari petuah tokoh yang satu ini hanya saja pengaruh rakyat itu ada pada saat pemilu, setelah itu maka sudah tidak ada korelasi lagi antara masyarakat dengan pemerintah. Rakyat hanya diperalat sebagai penentu dalam mencapai tujuan polotik yang diperankan atas kepentingan partai yang berkutat pada roda pemerintahan, sehingga tidak sedikit masyrakat khususnya masyarakat menengah kebawah yang berasumsi terhadap politik kotor, namun meskipun demikian pemerintah tetap saja mengabaikan kesejahteraan rakyat.
2.      Pemimpin harus berani mengambil tindakan dan mengambil resiko, dari apa yang telah menjadi kesepakatan antar anggota yang ada. Kedepankanlah kepentingan  bawahan  dan kepentingan  tujuan organisasii dengan memberikan kritik atas pekerjaan yang jelek dan memotivasinya sekaligus memberikan petunjuk pada bawahan bagaimana melakukan tugas yang baik.
Salah satu peranan pemimpin dalam meningkatkan pelayanan public adalah member motivasi kepada bawahan. Efesiensi dan produktian fitasnya yng tinggi dapat dicapai bila pemimpin berperan secara efektif dalam mengkoordinasikan semua bawahan di lingkunganya. Produktifitas adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam jangka waktu yang relative singkat dan mencapai tingkat hasil yang memuaskan..(Dr. Kridawati Sadhana, M.S.-Etika birokrasi.hal 190.). maka untuk merealisasikan perilaku pemimpin dalam hubungannya cenderung mementingkan bawahan
a.       Ramah Tamah
b.      Mendukung dan membela bawahan
c.       Mau berkonsultasi
d.      Mau mendengarkan pendapat bawahan
e.       Mau menerima usulan bawahan
f.       Memikirkan kesejahteraan bawahan
g.      Memperlakukan bawahan setingkat dirinya.
h.      Selalu memberikan petunjuk bawahan bagaimana melakukan tugas dengan baik
i.        Memberikan setandar tertentu atas pekerjaan
Yang terakhir jadilah pemimpin yang proaktif dan anti NATO, dalam kepemimpinan bukan soal kedudukan yang sesuai dengan jobscription masing, akan tetapi bagaiman mempengaruhi bawahanya, dalam hal ini penulis teringat bahasanya pak dahlan iskan yang mengatakan “jagalah hati dengan puisi jangan menjaga hati dengan posisi”.

Malang 27 desember 2013
M. JALALI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar