Senin, 21 April 2014

ANALISIS KEPEMIMPINAN



Nama : M. JALALI
NIM : 2013210057
Prodi: Ilmu Administrasi Negara


Tugas 1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan
Pada dasarnya Saudara dicetak menjadi Pemimpin, dengan berkompetensi Kepemimpinan, dengan nilai lebih pada Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang didasarkan pada teori sifat-sifat pemimpin, dengan harapan beraplikasi pada perilaku kepemimpinan situasional, sehingga ada keterikatan baik emosional maupun kontingensi tujuan baik individu maupun organisasi, melalui proses tingkat kematangan kompetensi yang ditunjang motivasi menjadikan diri pemimpin yang melayani dalam sistem kepemimpian.

Tugas:
1.       Lakukan analisis singkat atas konsep tersebut di atas. (jawaban soal no 1 ini setelah diserahkan secara fisik/tertulis, dimasukkan pada komentar, dan diunggah pada blog masing-2 mahasiswa, print out bukti unggah);

2.       Berikan contoh satu sikap dan perilaku, yang saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara situasional;

3.       Tingkat kematangan pemimpin, akan terlihat pada proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan pengambilan keputusan, apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut ?

Jawaban
1.      yang namanya pemimpin pada saat ini jika di analogikan pada ranah pemerintahan  semuanya bermuara pada kekuasaan dan kepentingan kelompok, karna saat ini yang ada bukanlah pemimpin akan tetapi pekerja partai politik yang cenderung merauk kekuasan melalui jalur dinasti politik yang di usung oleh masing-masing pemimpin yang bernaung di kerindangan bendera partai. Akibatnya dalam satu instansi anggap  saja Trias politika,(Eksekutif, Legislatif, yudikatif).saat ini dilamnya terdapat beberapa ideologi yang di usung oleh masing-masing bendera. Oleh karenan-nyalah kepincangan selalu mengema dimana-mana. pun kebijakan yang diambil menjadi suatu hal yang lapuk tanpa landasan teori keselarasan antar sesama, baik pemerintah maupun rakyatnya karena sudah tidak sejalur dalam satu altar yang di tempati. Jadi yang namanya Etika, dan Filsafat kepemimpinan seakan akan tidak difungsikan oleh pemimpin yang seperti telah disebutkan di atas, dari apa yang dipaparkan terselubung tanda Tanya besar. Mampukah mereka yang telah tersaring di parpol menjadi sosok pemimpin yang edeal?. Mengingat kemampuan pemimpin dari segi spiritual, emosional dan intelektual, yang menonjol hanyalah intelektualnya saja yang disertakan dengan beberapa nalar retorika yang dikoar-koarkan.).Kepincangan seluruh lembaga kenegaraan sangatlah jelas pada saat ini terlukiskan dimana-mana, perbedaan ideology menciptakan alur dalam status kelembagaan yang tidak pernah dikatakan maksimal. Mulai dari pejabat-pejabat elitpun sampai pada tataran pejabat daerah, katakanlah presiden sampai pada bupatipun tidak pernah menemukan ketidak samaan ideology, karna pemerintah saat ini hanya berkutat pada kepemimpinannya akan tetapi semuanya hanya menjadi kontrak kerja politik dari masing-masing partai yang telah mengantarkanya kekursi kekuasaan.

     Pemimpin ku pemimpin yang mana? Jika mengingat pada perkataan Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin. Almuluku Hukkamun Alannas, Wal Ulamau Hukkamun Alal Muluk yang artinya,” Manusia di hukumi oleh pemerintah, dan pemerintah di hukumi oleh ulama’”.tapi kenapa ketika ketika seseorang menjadi dan menduduki pemerintahan sebagai pemimpin yang mempunyai latar belakang pesantren dan mempunyai sikap dan prilaku yang bijaksana, banyak yang bergaung ingin melengserkanya. Dan kenapa peran Negara di prioritaskan kepada orang-orang Negeri, sedangkan pihak Swasta sangat di persulit untuk melakoni peranya sebagai anak bangsa. Mana kesadaran atas 4 pilar kebangsaan? (pancasila, UUD 1945, NKRI, Bineka Tunggal ika)

2.      secara situsional proses kepemimpinan yang saya alami adalah bersifat proaktif dan konsisten dalam mengambil keputusan, memberikan saran dan pujian pada bawahan, karena secara psikologis bahasa yang mengandung pujian di ucapkan oleh pemimpin pada bawahan akan mampu memberi inovasi baru dalam gebrakan kinerjanya, dan menghindar dari sifat memarahi kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, lakukan evaluasi panel, berikan arahan yang sifatnya tidak memerintahkan. Posisikan bawahan sebagai mana kita memposisikan diri sebagai pemimpin.
      Dapat di simpulkan bahwa manusia itu harus memiliki sifat atau komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-hari. Secara situasional;dan digunakan dengan baik dan benar (bijak). Setiap pemimpin, baik pemimpin formal dan informal dalam penyuluhan berkewajiban untuk melakukan fungsi dan perannya dalam menggerakkan dan membangun SDM-klien untuk mencapai tujuan penyuluhan atau pemberdayaan sesuai dengan yang direncanakan. Seorang pemimpin baik formal maupun informal selalu mendambakan pembaruan, sebab dia tau bahwa hanya dengan pembaharuan akan dapat dihasilkan mutu yang lebih baik. Oleh karena itu dia harus selalu mendorong semua orang dalam organisasinya untuk berani melakukan inovasi-inovasi, baik menyangkut cara kerja maupun barang dan jasa yang dihasilkan.
Pemimpin formal pada dasarnya harus menempatkan, jiwa dan perilakunya untuk menjaga citra kepemimpinannya dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat yang dipimpinnya. Efektifitas dan efisiensinya seorang pemimpin formal adalah dengan mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongannya dalam rangka mencapai tujuan yang di cita-citakan bersama. Pemimpin formal setiap saat dapat dihindari atau tidak dipercaya oleh masyarakat karena arah kebijakan dan keputusan serta program kerjanya selalu merugikan masyarakat yang dipimpinnya.
3.      Dalam kepemimpinan sikap adalah segalanya, bagaiman cara bertindak, bagimana cara memberi arahan atau memotivasi bawahan dan menjadikan dirinya sebagai komunikator yang baik pada anggotanya. Karana saat ini banyak orang-orang bijak tapi sama sekali tidak memberi teladan . menurut (Antoni Robbins), tiga keputusan menentukan nasip kita, pertama ke mana focus kita arahkan. Kedua, bagaimana kita menyikapi hal yang dihadapi. Ketiga apa yang dilakukan untuk mendapatkan keinginan kita.. maka untuk menjawab soal no 3 di atas tidak jauh dari keputusan dan konsepsi pembuatan kebijakan, yang tentunya tidak lepas dari yang namanya koordinasi  untuk mencari keputusan dan kesepakatan bersama karena dalam kepemimpinan bukan hanya milik pemimpin yang semuanya di ambil alih olehnya, jadi tidak menutup kemungkinan bagi anggotanya untuk ikut andil dalam segala kebijakan yang akan di ambil soalnya anggota atau stafnya-lah yang akan menjadi objek dalam hasil keputusan tersebut sebagai actor utama untuk mengaplikasikan kepeutusan tersebut. JEN Z.A.HANS menyebutkan dalam bukunya(strategi pengembangan diri) di antaranya adalah

Ø  Bila pemimpin cepat memutuskan berarti beliau berani mengambil keputusan. Bila bawahan cepat memutuskan berarti dia gegabah.
Ø  bila pemimpin berubah pendapat, itu berarti beliau fleksibel. Bila bawahan berubah pendapat berarti dia plin-plan.
Ø  Bila pemimpin bekerja cepat berarti dia Smart. Bila bawahan bekerja cepat itu berarti dia terburu-buru.