Nama : M. JALALI
NIM : 2013210057
Prodi: Ilmu
Administrasi Negara
Tugas
1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan
Pada dasarnya Saudara dicetak
menjadi Pemimpin, dengan berkompetensi Kepemimpinan, dengan nilai lebih pada
Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang didasarkan pada teori sifat-sifat
pemimpin, dengan harapan beraplikasi pada perilaku kepemimpinan situasional,
sehingga ada keterikatan baik emosional maupun kontingensi tujuan baik individu
maupun organisasi, melalui proses tingkat kematangan kompetensi yang ditunjang
motivasi menjadikan diri pemimpin yang melayani dalam sistem kepemimpian.
Tugas:
1.
Lakukan analisis singkat atas konsep
tersebut di atas. (jawaban soal no 1 ini setelah diserahkan secara
fisik/tertulis, dimasukkan pada komentar, dan diunggah pada blog masing-2
mahasiswa, print out bukti unggah);
2.
Berikan contoh satu sikap dan
perilaku, yang saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan
nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara
situasional;
3.
Tingkat kematangan pemimpin, akan
terlihat pada proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan
pengambilan keputusan, apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai
tujuan tersebut ?
Jawaban
1.
yang
namanya pemimpin pada saat ini jika di analogikan pada ranah pemerintahan semuanya bermuara pada kekuasaan dan
kepentingan kelompok, karna saat ini yang ada bukanlah pemimpin akan tetapi
pekerja partai politik yang cenderung merauk kekuasan melalui jalur dinasti
politik yang di usung oleh masing-masing pemimpin yang bernaung di kerindangan
bendera partai. Akibatnya dalam satu instansi anggap saja Trias politika,(Eksekutif, Legislatif,
yudikatif).saat ini dilamnya terdapat beberapa ideologi yang di usung oleh
masing-masing bendera. Oleh karenan-nyalah kepincangan selalu mengema
dimana-mana. pun kebijakan yang diambil menjadi suatu hal yang lapuk tanpa
landasan teori keselarasan antar sesama, baik pemerintah maupun rakyatnya
karena sudah tidak sejalur dalam satu altar yang di tempati. Jadi yang namanya
Etika, dan Filsafat kepemimpinan seakan akan tidak difungsikan oleh pemimpin
yang seperti telah disebutkan di atas, dari apa yang dipaparkan terselubung
tanda Tanya besar. Mampukah mereka yang telah tersaring di parpol menjadi sosok
pemimpin yang edeal?. Mengingat kemampuan pemimpin dari segi spiritual,
emosional dan intelektual, yang menonjol hanyalah intelektualnya saja yang
disertakan dengan beberapa nalar retorika yang dikoar-koarkan.).Kepincangan
seluruh lembaga kenegaraan sangatlah jelas pada saat ini terlukiskan
dimana-mana, perbedaan ideology menciptakan alur dalam status kelembagaan yang
tidak pernah dikatakan maksimal. Mulai dari pejabat-pejabat elitpun sampai pada
tataran pejabat daerah, katakanlah presiden sampai pada bupatipun tidak pernah
menemukan ketidak samaan ideology, karna pemerintah saat ini hanya berkutat
pada kepemimpinannya akan tetapi semuanya hanya menjadi kontrak kerja politik
dari masing-masing partai yang telah mengantarkanya kekursi kekuasaan.
Pemimpin ku pemimpin yang mana? Jika
mengingat pada perkataan Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin. Almuluku
Hukkamun Alannas, Wal Ulamau Hukkamun Alal Muluk yang artinya,” Manusia
di hukumi oleh pemerintah, dan pemerintah di hukumi oleh ulama’”.tapi kenapa
ketika ketika seseorang menjadi dan menduduki pemerintahan sebagai pemimpin
yang mempunyai latar belakang pesantren dan mempunyai sikap dan prilaku yang
bijaksana, banyak yang bergaung ingin melengserkanya. Dan kenapa peran Negara
di prioritaskan kepada orang-orang Negeri, sedangkan pihak Swasta sangat di
persulit untuk melakoni peranya sebagai anak bangsa. Mana kesadaran atas 4
pilar kebangsaan? (pancasila, UUD 1945, NKRI, Bineka Tunggal ika)
2.
secara
situsional proses kepemimpinan yang saya alami adalah bersifat proaktif dan
konsisten dalam mengambil keputusan, memberikan saran dan pujian pada bawahan,
karena secara psikologis bahasa yang mengandung pujian di ucapkan oleh pemimpin
pada bawahan akan mampu memberi inovasi baru dalam gebrakan kinerjanya, dan
menghindar dari sifat memarahi kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, lakukan
evaluasi panel, berikan arahan yang sifatnya tidak memerintahkan. Posisikan
bawahan sebagai mana kita memposisikan diri sebagai pemimpin.
Dapat
di simpulkan bahwa manusia itu harus memiliki sifat atau komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan
filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-hari. Secara situasional;dan digunakan
dengan baik dan benar (bijak). Setiap pemimpin, baik pemimpin formal dan
informal dalam penyuluhan berkewajiban untuk melakukan fungsi dan perannya
dalam menggerakkan dan membangun SDM-klien untuk mencapai tujuan penyuluhan
atau pemberdayaan sesuai dengan yang direncanakan. Seorang pemimpin baik formal
maupun informal selalu mendambakan pembaruan, sebab dia tau bahwa hanya dengan
pembaharuan akan dapat dihasilkan mutu yang lebih baik. Oleh karena itu dia
harus selalu mendorong semua orang dalam organisasinya untuk berani melakukan
inovasi-inovasi, baik menyangkut cara kerja maupun barang dan jasa yang
dihasilkan.
Pemimpin
formal pada dasarnya harus menempatkan, jiwa dan perilakunya untuk menjaga
citra kepemimpinannya dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat yang dipimpinnya.
Efektifitas dan efisiensinya seorang pemimpin formal adalah dengan
mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan
golongannya dalam rangka mencapai tujuan yang di cita-citakan bersama. Pemimpin
formal setiap saat dapat dihindari atau tidak dipercaya oleh masyarakat karena
arah kebijakan dan keputusan serta program kerjanya selalu merugikan masyarakat
yang dipimpinnya.
3.
Dalam
kepemimpinan sikap adalah segalanya, bagaiman cara bertindak, bagimana cara
memberi arahan atau memotivasi bawahan dan menjadikan dirinya sebagai komunikator
yang baik pada anggotanya. Karana saat ini banyak orang-orang bijak tapi sama
sekali tidak memberi teladan . menurut (Antoni
Robbins), tiga keputusan menentukan nasip kita, pertama ke mana focus kita
arahkan. Kedua, bagaimana kita menyikapi hal yang dihadapi. Ketiga apa yang
dilakukan untuk mendapatkan keinginan kita..
maka untuk menjawab soal no 3 di atas tidak jauh dari keputusan dan konsepsi
pembuatan kebijakan, yang tentunya tidak lepas dari yang namanya
koordinasi untuk mencari keputusan dan
kesepakatan bersama karena dalam kepemimpinan bukan hanya milik
pemimpin yang semuanya di ambil alih olehnya, jadi tidak menutup kemungkinan
bagi anggotanya untuk ikut andil dalam segala kebijakan yang akan di ambil
soalnya anggota atau stafnya-lah yang akan menjadi objek dalam hasil keputusan
tersebut sebagai actor utama untuk mengaplikasikan kepeutusan tersebut. JEN Z.A.HANS menyebutkan dalam bukunya(strategi pengembangan diri) di antaranya adalah
Ø Bila
pemimpin cepat memutuskan berarti beliau berani mengambil keputusan. Bila
bawahan cepat memutuskan berarti dia gegabah.
Ø bila
pemimpin berubah pendapat, itu berarti beliau fleksibel. Bila bawahan berubah
pendapat berarti dia plin-plan.
Ø Bila
pemimpin bekerja cepat berarti dia Smart.
Bila bawahan bekerja cepat itu berarti dia terburu-buru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar