ANALISIS HAKIKAT TEORI TEORI ILMU SOSIAL
DENGAN MENGGUNAKAN TEORI INTRAKSI SIMBOLIK
Tuhan sungguh
telah menyempurnakan kebahagiaan hidup kita dengan beberapa keahlian yang
berbeda-beda dan potensi yang beda pula, secara simbolik tentunya manusia dengan
konsepsi apapun sudah melakukan intraksi secara simbolik, meskipun kadang
kebanyakan seseorang bertindak dialam bawah sadarnya. Sebagai sebuah nikmat
kemampuan kita untuk melakukan intraksi sosial ini patut kita syukuri, bukankah
sebagain dari kita sering merasa kasihan pada mereka yang tidak bisa
berintraksi dengan yang lainya, dan tidak merasakan Simbiosis mutualisme dalam
tataran intraksi sosial. Ada dua kompetensi yang akan saya ambil dalam Mata
kuliah Teori-Teori Ilmu sosial ini diantaranya adalah
Kompetensi Dasar
1.
Memiliki ilmu tentang Islam serta
mampu menerapkannya di masyarakat dalam menjalankan profesiny
2.
Memiliki ketrampilan berbahasa
Indonesia dan asing yang menunjang profesinya.
3.
Memiliki rasa kebangsaan,
kebhinnekaan, demokratis, dan solidaritas sosial.
Kompetensi Utama
- Memiliki wawasan dan pengetahuan tentang dasar-dasar Teori-Teori Ilmu Sosial dan kaitannya dengan ilmu sosial lain
- Memiliki wawasan dan pengetahuan tentang teori-teori utamanya dalam Ilmu Sosial
- Memiliki kemampuan dalam membaca, mengamati, dan menganalisa fenomena sosial secara kritis
- Memiliki kemampuan professional sebagai seorang peneliti
- Memiliki kemampuan untuk melakukan proses pemberdayaan masyarakat
Dewasa ini Sosial kehidupan , sadar
atau tidak, sebenarnya semua orang melakukan proses berteori, dan atau
mempratikkan teori, baik ia sudah memahami apa sebenarnya teori maupun yang
tidak. Misalnya anak muda yang berusaha menentukan hari depannya, orang
tua yang berusaha menyesuaikan diri dengan perilaku anaknya, para pedagang yang
merencanakan perkulakannya, pemimpin politik berdebat tentang kebijakan
tertentu merupakan contoh-contoh kehidupan sehari-hari bagaimana orang sedang
menerapkan teori hasil interpretasi atas pegalaman-pengalamannya di masa lalu dan
proyeksinya ke depan. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa tindakan mereka
diarahkan oleh masa lalu dan masa depan, jangka panjang dan jangka pendek,
samar-samar atau transparan. Hal itu adalah cara bagaimana masyarakat melihat
fakta dan menginterpretasikannya. Menurut Johnson, salah satu jalan dalam
berteori memang dengan membuat interpretasi atau penafsiran-penafsiran atas
konteks masyarakat tertentu. Interpretasi ini berguna untuk menjelaskan suatu
peristiwa sosial tertentu. Seseorang bisa menjelaskan dia telah mengalami
peristiwa yang baik atau buruk, senang atau menyedihkan. Prosesnya dengan
mencoba membandingkan dengan pengalamannya di masa lalu, baik yang serupa
maupun relatif serupa, dan menghubungkannya dengan pengalaman di masa kini.
Setelah itu dia akan mendapatkan gambaran yang cukup mewakili, dan ia akan
memulai untuk melakukan interpretasi-interpretasi yang dia yakini kebenarannya.
Namun
demikian, perlu diketahui bahwa dalam membangun suatu teori dalam kehidupan
sosial diperlukan alat atau metode agar tercipta proposisi yang sistematis, dan
logis. Ringkasnya, meski para ahli sosial hingga saat ini masih berdebat
tentang orientasi positivis dan neo-positivis dalam konstruksi teori, namun mereka
bersepakat bahwa teori teori ilmu sosial sebagai ilmu pengetahuan bersifat
empirik–berangkat dan berhenti pada gejala sosial yang empirik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar