Senin, 16 Juni 2014

Makna Konsep Visioner Leadership Dan Transformational Leadership



              Tugas ke IV            
Makna Konsep Visioner Leadership Dan Transformational Leadership
Mata Kuliah Etika Dan Filsafat Kepemimpinan
Dosen,
Sugeng Rusmiwari, Drs. M, Si



 















Oleh
M. JALALI
2013210057






 PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI MALANG
Tahun Akademik 2014-2015


            Stereotipe Visioner Leadership, menjadikan motivasi  saudara sebagai agent of change and development secara akuntabel dengan harapan ransformational leadership dalam Proses Belajar dan Mengajar baik ilmu maupun seni menjadikan saudara “SMART Leadership”.
                                                                       
Tugas/Pertanyaan:

1.      Jelaskan makna konsep tersebut di atas !
2.      Faktor-2 apa saja yang mendukung ?
3.      Faktor apa saja yang menghambat ?
4.      Serta bagaimana pemecahannya ?






















JAWABAN
1.      Makna Konsep
a.      Visioner Leadership
Pemimpin Visioner yaitu harus membangun Resonansi dengan menggerakan orang-orang kearah Impian Bersama. Ketika perubahan membutuhkan visi baru, atau ketika dibutuhkan arah yang jelas. Degan menaruhkan sebuah kompetensi berdasarkan kecerdasan Emosional, kepercayaan, kesadaran diri, dan Empeti. Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan “School Based Manajement” dan didambakan bagi produktivitas pendidikan adalah kepemimpinan yang memiliki visi (Visioner Leadershep) yaitu kepemimpinan yang kerja pokoknya difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan, menjadi perubahan (Agent Of Change) yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi, yang tahu prioritas, menjadi pelatih yang profesional dan membimbing personil lainya kearah profesionalisme kerja yang diharapkan (Dedy AK. pdf/html)
b.      Makna Konsep Transformational Leadership
Kepemimpinan yang bersifat transformasional adalah kepemimpinan yang mempunyai dimensi; kharismatik, stimulus intelektual, konsiderasi individual, sumber inspirasi serta idealisme. Konsep dan praktek kepemimpinan transformasional dikembangkan sebagai jawaban atas keterbatasan konsep-konsep kepemimpinan yang telah ada dalam mengelola sumber daya manusia, organisasi dalam lingkungan yang mengalami perubahan-perubahan. Berbeda dengan kepemimpinan transaksional, yang menggunakan basis imbalan dalam menggerakkan bawahan, kepemimpinan transformasional menekankan terbentuknya rasa memiliki bagi setiap individu sebagai bagian dari kelompok. Oleh karena itu kepemimpinan transformasional diproposisikan berpengaruh positif terhadap komitmen bawahan pada organisasi.
                        Sebenarnya kepemimpinan mempunyai dampak langsung terhadap motivasi kerja, beberapa literatur menyatakan bahwa diantara motivasi yang dimiliki karyawan antara lain; peranan leader, gaji (salary), lingkungan kerja, jaminan karier, jaminan sosial yang diberikan dll. Perlu diketahui bahwa motivasi yang timbul sebenarnya merupakan dimensi dari komitmen yang oleh Meyer dibagi menjadi 3 yaitu komitmen afektif, continuance, dan normative.
            Dari beberapa pengertian Konsep tersebut di atas,  kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh bawahan untuk mendukung visi dan tujuan organisasi. Melalui transformasi nilai-nilai tersebut, diharapkan hubungan baik antar anggota organisasi dapat dibangun sehingga muncul iklim saling percaya diantara anggota organisasi. (Imam Gunawan/blogspot)
2.     Faktor Yang Mendukung.
Memahami sikap dan perilaku individu sangat penting untuk mendukung efektivitas organisasi. Salah satu faktor penting untuk mendorong agar kepemimpinan dalam organisasi dapat berjalan secara efektif adalah:
1.      Kharismatik
2.      Stimulus intelektual
3.      Konsiderasi individual
4.      Sumber inspirasi
5.      Idealisme.
6.      Memahami visi dan misi organisasi;
7.      Memahami lingkungan organisasi melalui analisis lingkungan strategis (SWOT);
8.      Merumuskan rencana strategis organisasi;
9.      Menginternalisasikan visi, misi, kondisi lingkungan strategis, dan rencana startegis pada seluruh anggota organisasi;
10.  Mengendalikan rencana strategis melalui manajemen pengawasan yang tepat;
11.  Memahami kebutuhan para pegawai;
12.  Memahami kapasitas para pegawai;
13.  Mendistribusikan pekerjaan sesuai dengan kapasitas pegawai; dan
14.  Mengapresiasi hasil pekerjaan pegawai.
3.      Factor Yang Menghamomatbat
1.      Lemahnya produktvitas, yang secara otomatis akan menghasilkan kualitas kepemimpinan dipercaya sebagai penyebab rendahnya kualitas Visioner leadership,
2.      Belum optimalnya fungsi kepemimpinan akan berpengaruh kuat terhadap penciptaan, pembentukan, dan eksistensi budaya kepemimpinan.
3.      Rendahnya kemampuan menejerial organisasi yang terpimpin disebabkan karena kurangnya keahlian manajemen organisasi dalam penetapan visi-misi.
4.      Cara Pemecahan
Sikap sebagai Pemimpin yang bersifat konseptor dalam mengatur segala keiginanya atau dalam mengatasi masalah menjadi acuan penting sebagai Nilai tawar yang dicetuskan untuk benar benar menunjukan sebagai Agent Of Change and Development, maka Pembuatan Matrix cara menterjemahkan visi menjadi kenyataan, merupakan salah satu faktor pendukung dalam mengukur Deatline yang telah terangkum dalam visi-misinya. Karena dengan Sistem Matrix ini segala alokasi kinerja yang menghambat akan ditetapkan oleh jadwal yang telah ditentukan dengan demikian maka mengevaluasi kinerjapun akan menjadi efektif.
            Pemecahan masalah dapat diartikan sebagai suatu usaha atau tindakan yang dilakukan untuk mengatasi atau menanggulangi penyebab terjadinya masalah. Untuk itu dalam memecahkan suatu masalah di atas harus memperhatikan hal-hal berikut:
1.      akar penyebab masalah yang dihadapi,
2.      urutan prioritas pemecahan masalah,
3.      mengutamakan kepentingan umum/ seluruh anggota,
4.      tidak bertentangan dengan aturan (AD dan ART) yang telah disepakati,
5.      mengutamakan musyawarah untuk mufakat,
6.      bila perlu, dapat melibatkan pihak lain yang diyakini dapat menjadi penengah untuk membantu memecahkan masalah.
7.      dibicarakan dalam rapat pengurus untuk memperoleh kesepakatan di tingkat pengurus organisasinya,
8.      kesepakatan yang telah dicapai di tingkat pengurus dibahas/ dibicarakan dalam rapat dengan seluruh anggota,
9.      hasil pembahasan di tingkat pengurus harus ditaati oleh seluruh anggota,
10.  pengurus organisasi khususnya pemimpin merencnanaka Rapat tindak lanjut (RTL) berdasarkan alternaitf upaya pemecahan masalah yang telah disepakati. Untuk mempermudah pemantauan terhadap tindak lanjut dari kesepakatan, maka pengurus perlu membuat daftar masalah dan rencana pemecahannya. Daftar masalah dan rencana pemecahan permasalahan tersebut dibuat dalam bentuk tabel.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar