Tugas
ke IV
Makna Konsep Visioner Leadership Dan Transformational Leadership
Mata Kuliah Etika Dan Filsafat Kepemimpinan
Dosen,
Sugeng Rusmiwari, Drs. M, Si
![]() |
Oleh
M. JALALI
2013210057
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI MALANG
Tahun Akademik 2014-2015
Stereotipe Visioner
Leadership, menjadikan motivasi saudara sebagai agent of change and development secara akuntabel dengan harapan ransformational leadership dalam Proses
Belajar dan Mengajar baik ilmu maupun seni menjadikan saudara “SMART Leadership”.
Tugas/Pertanyaan:
1. Jelaskan makna
konsep tersebut di atas !
2. Faktor-2 apa saja
yang mendukung ?
3. Faktor apa saja yang
menghambat ?
4. Serta bagaimana
pemecahannya ?
JAWABAN
1. Makna Konsep
a. Visioner Leadership
Pemimpin Visioner yaitu harus membangun Resonansi
dengan menggerakan orang-orang kearah Impian Bersama. Ketika perubahan
membutuhkan visi baru, atau ketika dibutuhkan arah yang jelas. Degan menaruhkan
sebuah kompetensi berdasarkan kecerdasan Emosional, kepercayaan, kesadaran
diri, dan Empeti. Kepemimpinan yang relevan
dengan tuntutan “School Based Manajement”
dan didambakan bagi produktivitas pendidikan adalah kepemimpinan yang memiliki
visi (Visioner Leadershep) yaitu
kepemimpinan yang kerja pokoknya difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh
tantangan, menjadi perubahan (Agent Of
Change) yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi, yang tahu
prioritas, menjadi pelatih yang profesional dan membimbing personil lainya
kearah profesionalisme kerja yang diharapkan (Dedy AK. pdf/html)
b. Makna Konsep Transformational Leadership
Kepemimpinan yang bersifat transformasional adalah
kepemimpinan yang mempunyai dimensi;
kharismatik, stimulus intelektual, konsiderasi individual, sumber inspirasi
serta idealisme. Konsep dan praktek kepemimpinan transformasional dikembangkan
sebagai jawaban atas keterbatasan konsep-konsep kepemimpinan yang telah ada
dalam mengelola sumber daya manusia, organisasi dalam lingkungan yang mengalami
perubahan-perubahan. Berbeda dengan
kepemimpinan transaksional, yang menggunakan basis imbalan dalam menggerakkan
bawahan, kepemimpinan transformasional menekankan terbentuknya rasa memiliki
bagi setiap individu sebagai bagian dari kelompok. Oleh karena itu kepemimpinan
transformasional diproposisikan berpengaruh positif terhadap komitmen bawahan
pada organisasi.
Sebenarnya
kepemimpinan mempunyai dampak langsung terhadap motivasi kerja, beberapa
literatur menyatakan bahwa diantara motivasi yang dimiliki karyawan antara
lain; peranan leader, gaji (salary), lingkungan kerja, jaminan
karier, jaminan sosial yang diberikan dll. Perlu diketahui bahwa motivasi yang
timbul sebenarnya merupakan dimensi dari komitmen yang oleh Meyer dibagi
menjadi 3 yaitu komitmen afektif, continuance, dan normative.
Dari beberapa pengertian Konsep tersebut di atas,
kepemimpinan transformasional merupakan gaya
kepemimpinan yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh
bawahan untuk mendukung visi dan tujuan organisasi. Melalui transformasi
nilai-nilai tersebut, diharapkan hubungan baik antar anggota organisasi dapat
dibangun sehingga muncul iklim saling percaya diantara anggota organisasi. (Imam Gunawan/blogspot)
2. Faktor Yang Mendukung.
Memahami sikap dan perilaku individu
sangat penting untuk mendukung efektivitas organisasi. Salah satu faktor
penting untuk mendorong agar kepemimpinan dalam organisasi
dapat berjalan secara efektif adalah:
1.
Kharismatik
2.
Stimulus
intelektual
3.
Konsiderasi
individual
4.
Sumber
inspirasi
5. Idealisme.
6.
Memahami visi dan misi organisasi;
7.
Memahami lingkungan organisasi melalui
analisis lingkungan strategis (SWOT);
8.
Merumuskan rencana strategis
organisasi;
9.
Menginternalisasikan visi, misi,
kondisi lingkungan strategis, dan rencana startegis pada seluruh anggota
organisasi;
10.
Mengendalikan rencana strategis
melalui manajemen pengawasan yang tepat;
11.
Memahami kebutuhan para pegawai;
12.
Memahami kapasitas para pegawai;
13.
Mendistribusikan pekerjaan sesuai
dengan kapasitas pegawai; dan
14.
Mengapresiasi hasil pekerjaan pegawai.
3.
Factor Yang Menghamomatbat
1.
Lemahnya produktvitas, yang secara
otomatis akan menghasilkan kualitas kepemimpinan dipercaya sebagai penyebab
rendahnya kualitas Visioner leadership,
2.
Belum optimalnya fungsi kepemimpinan akan
berpengaruh kuat terhadap penciptaan, pembentukan, dan eksistensi budaya
kepemimpinan.
3.
Rendahnya kemampuan menejerial
organisasi yang terpimpin disebabkan karena kurangnya keahlian manajemen
organisasi dalam penetapan visi-misi.
4.
Cara Pemecahan
Sikap sebagai Pemimpin yang
bersifat konseptor dalam mengatur segala keiginanya atau dalam mengatasi
masalah menjadi acuan penting sebagai Nilai tawar yang dicetuskan untuk benar
benar menunjukan sebagai Agent Of Change
and Development, maka Pembuatan Matrix cara menterjemahkan visi menjadi
kenyataan, merupakan salah satu faktor pendukung dalam mengukur Deatline yang telah terangkum dalam
visi-misinya. Karena dengan Sistem Matrix ini segala alokasi kinerja yang
menghambat akan ditetapkan oleh jadwal yang telah ditentukan dengan demikian
maka mengevaluasi kinerjapun akan menjadi efektif.
Pemecahan masalah dapat diartikan
sebagai suatu usaha atau tindakan yang dilakukan untuk mengatasi atau
menanggulangi penyebab terjadinya masalah. Untuk itu dalam memecahkan suatu
masalah di atas harus memperhatikan hal-hal berikut:
1.
akar penyebab masalah yang dihadapi,
2.
urutan prioritas pemecahan masalah,
3.
mengutamakan kepentingan umum/ seluruh
anggota,
4.
tidak bertentangan dengan aturan (AD
dan ART) yang telah disepakati,
5.
mengutamakan musyawarah untuk mufakat,
6.
bila perlu, dapat melibatkan pihak
lain yang diyakini dapat menjadi penengah untuk membantu memecahkan masalah.
7.
dibicarakan dalam rapat pengurus untuk
memperoleh kesepakatan di tingkat pengurus organisasinya,
8.
kesepakatan yang telah dicapai di
tingkat pengurus dibahas/ dibicarakan dalam rapat dengan seluruh anggota,
9.
hasil pembahasan di tingkat pengurus
harus ditaati oleh seluruh anggota,
10. pengurus organisasi khususnya pemimpin merencnanaka Rapat tindak lanjut
(RTL) berdasarkan alternaitf upaya pemecahan masalah yang telah disepakati.
Untuk mempermudah pemantauan terhadap tindak lanjut dari kesepakatan, maka
pengurus perlu membuat daftar masalah dan rencana pemecahannya. Daftar masalah
dan rencana pemecahan permasalahan tersebut dibuat dalam bentuk tabel.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar